Jelang Hari Jadi ke-528, Bupati Kuningan Ziarah ke Makam Pangeran Rama Jaksa Patikusuma, Ungkap Jejak Tokoh Raja, Panglima hingga Ulama
- calendar_month 16 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

KUNINGAN. sangajinews.com – Menjelang peringatan Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan, Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. bersama Wakil Bupati Hj. Tuti Andriani, S.H., M.Kn. dan Sekretaris Daerah U. Kusmana, S.Sos., M.Si., melakukan ziarah ke makam Pangeran Rama Jaksa Patikusuma di Kelurahan Winduherang, Kecamatan Cigugur, Senin (31/8/2026).
Ziarah tersebut berlangsung khidmat dan menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-528 Kuningan. Namun, kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial. Di baliknya tersimpan pesan penting untuk kembali mengenang jejak para leluhur yang turut membentuk perjalanan sejarah Kuningan.
Setibanya di kompleks makam, Bupati Dian bersama rombongan mengikuti prosesi ziarah dan doa bersama. Suasana penuh kekhidmatan terasa ketika doa dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan sekaligus ungkapan terima kasih kepada para pendahulu yang telah meninggalkan warisan nilai bagi generasi penerus.
Turut hadir Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Kuningan, Kabag Kesra Setda Kuningan, serta sejumlah unsur lainnya.
Bagi Pemerintah Kabupaten Kuningan, mengenang leluhur bukan hanya tentang melihat kembali masa lalu.
Ziarah menjadi momentum refleksi untuk menggali kembali nilai perjuangan, kepemimpinan, pendidikan, dan keteladanan para tokoh terdahulu yang dinilai masih relevan untuk menjadi pijakan dalam membangun Kuningan di masa kini dan masa depan.
Salah satu tokoh yang menjadi bagian penting dalam napak tilas tersebut adalah Pangeran Rama Jaksa Patikusuma.
Berdasarkan keterangan juru pelihara makam, Andi, Pangeran Rama Jaksa Patikusuma dikenal dalam tradisi sejarah lokal sebagai sosok yang memiliki tiga peran penting sekaligus, yakni raja, panglima, dan ulama.
Sebagai ulama, beliau disebut memiliki peran dalam penyebaran agama Islam pada masanya. Kiprahnya tidak hanya berkaitan dengan kehidupan keagamaan, tetapi juga dengan membangun serta membimbing kehidupan masyarakat.
Menariknya, Pangeran Rama Jaksa Patikusuma juga dikenal sebagai seorang pendidik.
Dalam tradisi sejarah setempat, salah satu tokoh yang mendapat pendidikan dan pengasuhan darinya adalah Pangeran Kuningan, Surangga Jaya, yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Arya Kamuning.
Pangeran Rama Jaksa Patikusuma juga dikenal memiliki gelar Ki Gedeng Kemuning. Dari nama dan gelar tersebut, Surangga Jaya kemudian disematkan nama Pangeran Kemuning sebagai bentuk keterkaitan dengan sosok yang menjadi pengasuh sekaligus pendidiknya.
Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa perjalanan sejarah Kuningan tidak hanya dibentuk oleh pemerintahan dan kekuasaan. Ada pula peran pendidikan, dakwah, kepemimpinan, serta keteladanan para tokoh yang hidup pada zamannya.
Makam Pangeran Rama Jaksa Patikusuma di Winduherang hingga kini menjadi salah satu jejak sejarah yang terus dikenang masyarakat.
Keberadaan makam tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan sosial, keagamaan, hingga pemerintahan di wilayah Kuningan memiliki perjalanan panjang yang tidak terlepas dari peran para leluhur.
Usai berziarah ke makam Pangeran Rama Jaksa Patikusuma, Bupati Dian bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju makam Pangeran Arya Adipati Ewangga, yang juga berada di Kelurahan Winduherang.
Rangkaian ziarah kemudian dilanjutkan menuju Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon.
Ziarah ke sejumlah makam tersebut menjadi bagian dari napak tilas sejarah yang memperlihatkan eratnya keterkaitan perjalanan Kuningan dengan perkembangan Islam, kepemimpinan, serta pemerintahan di wilayah Cirebon dan sekitarnya.
Rangkaian ziarah tersebut membawa satu pesan utama: menghormati leluhur bukan berarti berhenti pada masa lalu.
Justru dari sejarah, generasi hari ini dapat mengambil nilai perjuangan, keteladanan, pendidikan, dan semangat pengabdian untuk kemudian diterapkan dalam membangun daerah.
Di momentum Hari Jadi ke-528 Kuningan, jejak para leluhur kembali diingatkan. Bukan hanya sebagai cerita sejarah, tetapi sebagai warisan nilai yang diharapkan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi Kuningan berikutnya.
Sebab, daerah yang menghargai sejarah adalah daerah yang tahu dari mana ia berasal dan ke mana harus melangkah.
- Penulis: admin

Saat ini belum ada komentar