Breaking News
light_mode
Beranda » DAERAH » Dedi Mulyadi Soroti Jalan Rusak hingga Filosofi Sunda di HUT ke-528 Kuningan: “Ngomean Jalan Teh Kawajiban Nagara

Dedi Mulyadi Soroti Jalan Rusak hingga Filosofi Sunda di HUT ke-528 Kuningan: “Ngomean Jalan Teh Kawajiban Nagara

KUNINGAN, sangajinews.com — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan sejumlah pesan keras sekaligus refleksi filosofis tentang arah pembangunan Kabupaten Kuningan dalam sidang paripurna memperingati Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan tahun 2026.

Dalam pidatonya, Dedi menegaskan bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengejar pembangunan fisik. Menurutnya, pembangunan harus memiliki karakter, berakar pada budaya dan kondisi lingkungan masyarakat setempat.

Dedi bahkan menyinggung persoalan jalan rusak yang selama ini kerap dijadikan bahan publikasi pemerintah.

“Pa Bupati, ari ngeunaan ngomean jalan mah teu kudu diumum-umum. Éta mah kawajiban nagara,” ujar Dedi.

Menurutnya, masyarakat sudah memenuhi kewajibannya melalui berbagai pungutan pajak, termasuk pajak kendaraan bermotor dan pajak bumi dan bangunan. Karena itu, pemerintah harus memberikan pelayanan yang sepadan.

“Pajak dipungut, pajak kendaraan bermotor dipungut, PBB dipungut, ari jalan butut. Ari baju pejabat aralus, mobil dinas aralus,” katanya.

Ia meminta Pemerintah Kabupaten Kuningan mengalokasikan sekitar 7 persen APBD untuk infrastruktur jalan. Jika dilakukan, Pemprov Jawa Barat disebut siap memberikan tambahan anggaran hingga Rp100 miliar pada tahun berikutnya, dengan catatan bantuan tersebut diwujudkan dalam bentuk pembangunan jalan.

“Bentukna teu artos, tapi bentukna jalan. Supaya jalan kabupaten, upami digarap ku provinsi nganggo standar jalan provinsi,” ungkapnya.

Dedi menjelaskan, pembangunan jalan tidak boleh sekadar melakukan pengaspalan. Jalan harus memiliki konstruksi yang memadai, drainase, penerangan jalan umum (PJU), hingga kamera pengawas atau CCTV.

“Nyieun jalan hotmix teu didrainasean, sarua wae. Kedah aya PJU, da kedah caang. Pan pajakna dipungut, pajak penerangan jalan umum. Naha ari pajakna dipungut ari jalanna poék wae?” katanya.

Ia juga mendorong pemasangan CCTV untuk membantu pengawasan aktivitas di jalan serta keberadaan petugas kebersihan untuk memastikan drainase dan lingkungan jalan tetap terawat.

Dari persoalan infrastruktur, Dedi kemudian membawa pidatonya ke ranah yang lebih luas: filosofi pembangunan berbasis budaya Sunda.

Dengan gaya khasnya, Dedi mengatakan bahwa pembangunan Jawa Barat harus memiliki watak ideologi dan filosofi yang sesuai dengan karakter masyarakatnya.

“Ai kuring ti baheula naon, da kuring mingpin Tatar Sunda, Tatar Jawa Barat. Nya filosofina Sunda, weh.”

Menurut Dedi, filosofi pembangunan di tanah Sunda harus bermuara pada terciptanya masyarakat yang “ngahenang-ngahening”—kehidupan yang tenteram, nyaman, dan membuat masyarakat merata.

Dedi juga menyinggung ikan kancra yang menurutnya merupakan bagian dari warisan sejarah dan kebudayaan Kuningan.

Ia mengaku telah memperhatikan keberadaan ikan tersebut sejak lama.

“Kuring ngingu lauk éta lain ti jaman ayeuna. Ti keur baheula, jadi wakil bupati, kuring geus ngurus ngamumule éta lauk.”

Menurutnya, ikan kancra memiliki nilai ekonomi tinggi dan sudah dibudidayakan serta dipasarkan hingga luar negeri.

Dedi menegaskan bahwa pembangunan pada hakikatnya adalah “ngaraksa jeung ngariksa”, yakni menjaga dan merawat.

Konsep tersebut, menurutnya, harus lahir dari rasa cinta terhadap daerah.

Ia juga mengajak masyarakat dan pemerintah memahami bahwa setiap wilayah memiliki karakter alam dan budaya masing-masing.

“Sing saha jalma nu cicing di hiji tempat, kedah ngawangun budaya nu disebutna ciri sabumi, cara sadesa, jawadah tutung biritna, sacarana-sacarana,” ujarnya.

Ia menyebut konsep tersebut sebagai bagian dari watak ideologi masyarakat Sunda, yang harus mampu menyatu dengan tanah, air, udara, dan lingkungan tempat tinggalnya.

Salah satu bagian yang menarik perhatian dalam pidato Dedi adalah ketika ia membahas tata ruang.

Menurutnya, pembangunan sebuah wilayah harus dimulai dari penataan ruang.

“Urang ngawangun hiji wangunan, di hiji tempat kudu gaduh tataruang heula.”

Ia kemudian menyampaikan prinsip sederhana yang menurutnya sudah dikenal dalam kearifan lokal Sunda:

“Gunung kudu kayaan, lengkob kudu balongan, lebak kudu sawahan. Ulah ditabrak.”

Dedi mengingatkan agar pembangunan tidak memaksakan konsep yang bertentangan dengan karakter alam.

Ia bahkan menyindir praktik pembangunan yang menurutnya terkadang terlalu mengandalkan argumentasi akademis tanpa mempertimbangkan kondisi lingkungan.

“Gawir di imah diargumentasikeun nganggo cakar ayam. Ah, tempo rugrug mah kabawa jeung hayam-hayamna,” katanya disambut perhatian hadirin.

Tidak hanya bicara pembangunan, Dedi juga mengaitkan filosofi Sunda dengan pola hidup masyarakat.

Ia mengatakan bahwa manusia sebaiknya mengonsumsi makanan yang tersedia di lingkungan tempat tinggalnya.

“Lamun urang hayang dahar séhat, kudu ngadahar dahareun nu aya di lingkungan urang dilahirkeun. Cau, lauk, sayuran,” ujarnya.

Dedi menyampaikan bahwa pola hidup yang dekat dengan alam merupakan salah satu alasan dirinya merasa sehat.

“Ari Kang Dedi kunaon siga séhat waé? Da kuring mah tara manggih obat, tara manggih dokter. Kieu wé, dahar-dahareun nu aya di lingkungan kuring.”

Ia mencontohkan kebiasaan mengonsumsi hasil pertanian dan perikanan yang berasal dari lingkungan sendiri.

“Lauk melak sorangan, pare melak sorangan, caina heueuh sorangan. Éta pola hirupna,” katanya.

Menutup rangkaian pemikirannya, Dedi kembali mengingatkan bahwa pembangunan harus berpijak pada karakter daerah.

Menurutnya, Kuningan tidak perlu kehilangan identitas hanya demi mengikuti gaya pembangunan daerah atau negara lain.

Pembangunan harus memperhatikan tata ruang, lingkungan, budaya, pangan, infrastruktur, keamanan, kebersihan, hingga kenyamanan masyarakat.

Pesan Dedi dalam sidang paripurna Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan itu pada akhirnya bukan sekadar soal jalan rusak atau tambahan anggaran.

Ia ingin pembangunan Jawa Barat, khususnya Kuningan, tetap berakar pada filosofi lokal.

Bagi Dedi Mulyadi, membangun daerah berarti menjaga alam, merawat lingkungan, menghormati budaya, menyediakan infrastruktur yang layak, dan memastikan rakyat dapat hidup “ngahenang-ngahening” tenteram, nyaman, dan bermartabat.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Tinjau Jembatan Cipedak, Bupati Dian: Kami Sambung Kembali Harapan Warga Cijemit”

    “Tinjau Jembatan Cipedak, Bupati Dian: Kami Sambung Kembali Harapan Warga Cijemit”

    • calendar_month Selasa, 3 Jun 2025
    • 0Komentar

    “Jembatan ini bukan sekadar infrastruktur, tapi jantung kehidupan desa. Ketika jembatan putus, maka yang hilang bukan hanya jalan, tapi juga asa. Hari ini, kami hadir untuk menyambung kembali harapan itu,” ujar Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., di hadapan warga Desa Cijemit. SangajiNews.com – Dalam komitmennya membangun kembali akses vital masyarakat yang sempat terputus akibat […]

  • PUI Kuningan Gelar Pembinaan Kepala Sekolah, Madrasah, dan Tenaga Pendidik

    PUI Kuningan Gelar Pembinaan Kepala Sekolah, Madrasah, dan Tenaga Pendidik

    • calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
    • 1Komentar

    KUNINGAN, sangajinews.com — Persatuan Umat Islam (PUI) Kabupaten Kuningan menggelar program pembinaan bagi kepala sekolah, kepala madrasah, serta tenaga pendidik dan kependidikan di lingkungan Perguruan PUI Kabupaten Kuningan, Selasa (29/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Sekretariat PUI Kabupaten Kuningan tersebut diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai lembaga pendidikan PUI se-Kabupaten Kuningan. Hadir dalam kegiatan tersebut […]

  • Bupati Kuningan Raih Penghargaan DPP LPM RI, Kolaborasi Pemberdayaan Masyarakat Jadi Sorotan

    Bupati Kuningan Raih Penghargaan DPP LPM RI, Kolaborasi Pemberdayaan Masyarakat Jadi Sorotan

    • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
    • 0Komentar

    Sangajinews.com. BANDUNG — Komitmen Pemerintah Kabupaten Kuningan dalam mendorong pemberdayaan masyarakat mendapat apresiasi di tingkat nasional. Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. menerima penghargaan dari Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (DPP LPM) RI atas dukungan dan sinergi Pemkab Kuningan bersama LPM desa dan kelurahan dalam menggerakkan pembangunan berbasis masyarakat. Penghargaan tersebut diserahkan […]

  • PELETAKAN BATU PERTAMA TPU DUSUN CANTILAN, WUJUD GOTONG ROYONG DAN KEPEDULIAN MASYARAKAT DESA LINGGAMEKAR

    PELETAKAN BATU PERTAMA TPU DUSUN CANTILAN, WUJUD GOTONG ROYONG DAN KEPEDULIAN MASYARAKAT DESA LINGGAMEKAR

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • 0Komentar

    sangajinews.com. Kuningan — Suasana penuh kebersamaan dan kekhidmatan mewarnai kegiatan peletakan batu pertama pembangunan Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Dusun Cantilan, Desa Linggamekar, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jumat (30/5/2026). Acara tersebut dihadiri unsur Pemerintah Kabupaten Kuningan, Pemerintah Kecamatan Cilimus, unsur Muspika, Pemerintah Desa Linggamekar, tokoh masyarakat, tokoh agama, para donatur, serta warga setempat. Dalam sambutannya, […]

  • Paskibraka Kuningan Dibubarkan, Bupati Dian: Yang Berakhir Hanya Barisan, Bukan Persaudaraan

    Paskibraka Kuningan Dibubarkan, Bupati Dian: Yang Berakhir Hanya Barisan, Bukan Persaudaraan

    • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
    • 0Komentar

    KUNINGAN. sangajinews.com – Rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Kuningan ditutup dengan momen penuh haru dan pesan kebangsaan. Paskibraka Kabupaten Kuningan Tahun 2026 resmi dibubarkan dalam acara yang digelar Panitia Hari Besar Nasional (PHBN), Senin malam, 17 Agustus 2026. Pembubaran tersebut dihadiri Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., Wakil Bupati […]

  • Bupati Kuningan Tegaskan Perempuan Harus Berdaya dan Berakhlak Mulia di Puncak Hari Kartini ke-147

    Bupati Kuningan Tegaskan Perempuan Harus Berdaya dan Berakhlak Mulia di Puncak Hari Kartini ke-147

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • 0Komentar

    sangajinews.com. KUNINGAN — Suasana khidmat dan penuh inspirasi mewarnai Puncak Peringatan Hari Kartini ke-147 tingkat Kabupaten Kuningan yang digelar di Alkenzi Mayang Catering, Selasa (21/04/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali peran strategis perempuan dalam pembangunan daerah. Acara yang diinisiasi Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Kuningan ini mengusung tema besar “Dengan Semangat Kartini […]

expand_less