Breaking News
light_mode
Beranda » DAERAH » Kuningan Perkuat Pengembangan Ubi Jalar, 300 Petani Terima Bantuan Pupuk

Kuningan Perkuat Pengembangan Ubi Jalar, 300 Petani Terima Bantuan Pupuk

KUNINGAN. sangajinews.com – Pemerintah Kabupaten Kuningan terus memperkuat pembangunan sektor pertanian, khususnya komoditas ubi jalar, sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas, ketahanan pangan, dan kesejahteraan petani.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., dalam kegiatan sosialisasi demplot pertanian, pengembangan kapasitas kelembagaan petani, serta penyerahan bantuan sarana produksi berupa pupuk kepada petani ubi jalar, Senin (21/9/2026).

Wahyu mengatakan, pertanian bagi Kabupaten Kuningan bukan sekadar sektor ekonomi, tetapi menjadi pondasi pangan, sumber penghidupan masyarakat, sekaligus bagian penting dari masa depan daerah.

“Ketika kita berbicara tentang pembangunan pertanian, yang kita bangun sesungguhnya bukan hanya luas tanam dan produksi. Yang kita bangun adalah kekuatan, ketahanan pangan, dan kemandirian Kabupaten Kuningan,” ujarnya.

Menurutnya, arah pembangunan pertanian Kuningan semakin memiliki pijakan kuat setelah Kabupaten Kuningan ditetapkan sebagai bagian dari Kawasan Pertanian Nasional melalui Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 02/KPTS/2025 tentang Kawasan Pertanian Nasional.

Dalam kebijakan tersebut, Kuningan memiliki kawasan untuk sejumlah komoditas tanaman pangan, yakni padi seluas 27.716 hektare, jagung 2.500 hektare, ubi kayu 1.182 hektare, serta ubi jalar 2.530 hektare.

Khusus ubi jalar, Wahyu menilai komoditas tersebut memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Dengan pola tanam yang dapat dilakukan dua kali dalam setahun, luas tanam ubi jalar di Kuningan secara potensial dapat mencapai sekitar 5.000 hektare.

“Penetapan ini bukan hanya sebuah angka dalam dokumen. Ini adalah amanah, peluang, sekaligus tanggung jawab. Kawasan pertanian yang telah ditetapkan harus kita isi dengan produktivitas, inovasi, peningkatan kualitas, penguatan kelembagaan, dan peningkatan kesejahteraan petani,” harapnya

Sebagai salah satu bentuk intervensi pemerintah daerah, sebanyak 300 petani ubi jalar di Kabupaten Kuningan menerima bantuan sarana produksi berupa pupuk.

Wahyu menegaskan, bantuan tersebut tidak boleh dimaknai sebatas pemberian barang, melainkan harus memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi dan kesejahteraan petani.

“Pupuk adalah input, tetapi tujuan akhirnya bukan pupuk. Tujuan akhirnya adalah produksi. Dan produksi pun bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah petani lebih produktif, usaha tani lebih menguntungkan, dan keluarga petani semakin sejahtera,” tuturnya.

Ia berharap bantuan tersebut dimanfaatkan secara tepat sesuai kebutuhan di lahan sehingga mampu mendorong peningkatan produktivitas ubi jalar di Kabupaten Kuningan.

Wahyu juga menyebut ubi jalar sebagai salah satu komoditas penting dalam kawasan pertanian Kuningan. Bahkan, menurutnya, Kuningan merupakan salah satu daerah penghasil ubi jalar utama di Jawa Barat.

“Ubi jalar di Jawa Barat nomor dua setelah Kabupaten Bandung. Kita hanya 2.500 hektare, tetapi kalau tanamnya dua kali, bisa mencapai 5.000 hektare,” jelasnya.

Besarnya produksi ubi jalar Kuningan, lanjut Wahyu, juga memiliki pengaruh terhadap dinamika harga komoditas tersebut di tingkat nasional.

Selain meningkatkan produksi, Pemkab Kuningan mendorong agar pembangunan komoditas ubi jalar tidak berhenti pada produksi bahan mentah.

Wahyu menekankan pentingnya peningkatan produktivitas, kualitas pascapanen, pengolahan, pemasaran hingga hilirisasi.

“Petani jangan hanya menjadi produsen. Petani harus kita dorong menjadi pelaku usaha pertanian. Dengan demikian, nilai tambah tidak berhenti di lahan, tetapi dapat terus bergerak sampai pada tahap pengolahan dan pemasaran,” katanya.

Ia menambahkan, pembangunan pertanian membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah melalui kebijakan dan program, UPTD melalui pelayanan, penyuluh melalui pendampingan dan transfer pengetahuan, kelompok tani melalui penguatan kerja sama, serta petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian.

“Kami ingin memastikan bantuan yang diberikan berjalan bersama dengan pengetahuan, teknologi, pendampingan, dan kelembagaan,” ujarnya.

Menurut Wahyu, bantuan tanpa pengetahuan tidak akan optimal, teknologi tanpa pendampingan tidak akan maksimal, sedangkan produksi tanpa kelembagaan yang kuat akan sulit berkembang menjadi kekuatan ekonomi.

Ia berharap penetapan Kawasan Pertanian Nasional dapat menjadi momentum untuk menjadikan Kuningan sebagai daerah pertanian yang produktif, modern, mandiri, dan berdaya saing.

“Petani kuat, pangan kuat. Pertanian maju, Kuningan Melesat!” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Kuningan Dr. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., mengatakan kegiatan sosialisasi dan penyaluran bantuan pupuk tersebut merupakan bentuk kehadiran pemerintah di tengah masyarakat petani.

“Hari ini kita mengadakan sosialisasi terkait kepentingan dan distribusi pupuk bagi para petani. Ini sebagai bukti pemerintah hadir di tengah-tengah para petani, mendorong juga suksesnya ketahanan pangan yang digagas oleh Pak Presiden melalui Astacita,” kata Dian.

Ia menilai sektor pertanian memiliki prospek bagi pembangunan ekonomi Kabupaten Kuningan. Karena itu, pemerintah daerah memberikan perhatian terhadap pengembangan komoditas yang dinilai memiliki peluang pasar, termasuk ubi jalar.

“Hari ini kita dorong khususnya para petani ubi jalar karena memiliki prospektivitas yang cukup tinggi. Mudah-mudahan dengan adanya program ini, sosialisasi demplot, dan bantuan pupuk menambah semangat para petani,” ujarnya.

Dian berharap dukungan pemerintah dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi ubi jalar Kuningan. Menurutnya, peluang pasar komoditas tersebut masih terbuka karena kebutuhan terhadap ubi jalar masih cukup besar.

“Saya yakin ke depan Kuningan akan menjadi salah satu sentra yang diperhitungkan berkaitan dengan ubi. Pasokan yang kita kirim masih kurang, jadi masih terbuka peluang,” katanya.

Dian juga mengajak generasi muda untuk melihat pertanian dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, perkembangan teknologi dan peluang usaha membuat sektor pertanian memiliki prospek sebagai bagian dari masa depan daerah.

“Pertanian hari ini tidak identik dengan kemiskinan, tidak identik dengan kebodohan, tidak identik dengan keterbelakangan. Justru ini merupakan masa depan Kuningan,” pungkasnya.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less