Tradisi Tak Boleh Hilang! Disporapar Kuningan Dorong Olahraga Tradisional Jadi Gaya Hidup Generasi Muda
- calendar_month 18 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

KUNINGAN, sangajinews.com – Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kuningan kembali menggelar invitasi olahraga tradisional tingkat sekolah dasar (SD) sederajat se-Kabupaten Kuningan. Kamis (8/10/2026)
Dalam Kegiatan tersebut berlangsung Dua hari, ini menjadi salah satu upaya pemerintah daerah untuk melestarikan permainan tradisional sekaligus mendorong anak-anak agar lebih aktif bergerak dan berolahraga di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Kepala Bidang Keolahragaan Disporapar Kabupaten Kuningan, Siswoyo, S.E. atau akrab disapa Boyo, mengatakan olahraga tradisional merupakan bagian dari budaya bangsa yang perlu terus dijaga agar tidak semakin tenggelam dan ditinggalkan generasi muda.
“Ini salah satu upaya kita melestarikan budaya bangsa yang hampir punah, atau istilahnya mulai tenggelam. Saat ini kita jarang menyaksikan anak-anak bermain, bergerak, dan berolahraga seperti dulu,” ujar Siswoyo.
Menurutnya, pelestarian budaya melalui olahraga tradisional menjadi salah satu cara untuk mengajak anak-anak kembali melakukan aktivitas fisik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi.
“Kalau dulu namanya semacam kaulinan budak. Saya bersama Kepala UPTD Disporapar, Pak Budi, bekerja sama dari awal sampai akhir dalam upaya pelestarian budaya bangsa melalui jalur olahraga tradisional,” katanya.
Kegiatan tersebut diikuti oleh peserta dari 32 kecamatan se-Kabupaten Kuningan dengan jenjang pendidikan SD sederajat. Hasil dari invitasi tingkat kabupaten ini nantinya akan menjadi bagian dari persiapan untuk mengikuti invitasi olahraga tradisional tingkat nasional yang akan berlangsung di Bogor.
Ada lima cabang olahraga tradisional yang dipertandingkan, yakni egrang, dagongan, terompah panjang, hadang, dan sumpitan. Kelima nomor tersebut mengacu pada cabang yang dipertandingkan di tingkat nasional.
Siswoyo menegaskan, prestasi bukan menjadi satu-satunya tujuan dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, yang lebih penting adalah memastikan olahraga tradisional tetap hidup dan menjadi bagian dari aktivitas anak-anak masa kini.
“Menang atau kalah tidak masalah. Yang penting pelestarian budaya melalui jalur olahraga tradisional ini tetap bertahan, bahkan harus menjadi kebutuhan anak-anak zaman sekarang,” tuturnya.
Ia menambahkan, aktivitas fisik dan olahraga harus terus didorong agar anak-anak tidak hanya menghabiskan waktu dengan perangkat teknologi.
“Intinya sifatnya tetap bergerak dan berolahraga,” ujarnya.
Dalam kegiatan pembukaan, turut hadir tokoh olahraga Kabupaten Kuningan yang dikenal dengan sapaan Bunda Ella. Kehadirannya disebut bukan semata-mata karena keterkaitan dengan kegiatan, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap olahraga masyarakat.
Siswoyo menjelaskan, Bunda Ella selama ini dikenal aktif mengajak masyarakat untuk bergerak dan berolahraga, baik dalam konteks olahraga prestasi maupun olahraga tradisional.
“Bunda Ella itu selaku tokoh olahraga, baik olahraga Kabupaten Kuningan yang sifatnya prestasi ataupun olahraga yang sifatnya tradisional. Beliau selalu mengajak warganya untuk bergerak dan berolahraga,” jelasnya.
Menurut Siswoyo, pesan yang kerap disampaikan Bunda Ella adalah pentingnya menjaga kesehatan masyarakat melalui aktivitas fisik.
“Warga sehat, Kabupaten kuat”. Dengan cara apa? Mengajak olahraga, bergerak dan berolahraga. Itu yang selalu diucapkan sama Bunda Ella,” katanya.
Sementara itu, Kepala UPTD Porapar Kabupaten Kuningan, Budiana Suparman, S.E, menyambut positif pelaksanaan olahraga tradisional yang digelar di Open Space Gallery.
Budiana mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk mendukung kelancaran kegiatan, termasuk pemberitahuan kepada kepolisian dan pemerintah desa sekitar lokasi.
Menurutnya, olahraga tradisional memiliki nilai penting karena menghidupkan kembali permainan anak-anak zaman dahulu yang kini semakin jarang ditemui.
“Olahraga tradisional itu mengangkat permainan anak-anak zaman dulu. Jangan sampai hilang. Karena siapa lagi yang akan melestarikan permainan-permainan anak-anak zaman dulu?” kata Budiana.
Ia mencontohkan permainan seperti egrang yang dahulu banyak dimainkan anak-anak, namun kini mulai jarang terlihat.
“Waktu saya kecil, egrang dan permainan lainnya itu ada. Sekarang sudah hampir punah. Kemudian diangkat kembali oleh dinas dan diadakan setiap tahun untuk melestarikannya supaya tidak punah,” ujarnya.
Budiana berharap para guru SD di setiap kecamatan turut mengenalkan dan mengembangkan olahraga tradisional kepada peserta didik. Dengan demikian, pelestarian dapat dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten hingga nasional.
“Saya berharap setiap guru SD bisa mengangkatnya di tiap kecamatan. Dari kecamatan kemudian tingkat kabupaten, dan nantinya ada tingkat nasional di Bogor. Saya sangat mendukung sekali,” pungkasnya.
Pelaksanaan invitasi olahraga tradisional tersebut diharapkan tidak hanya melahirkan atlet berprestasi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali kekayaan permainan tradisional kepada generasi muda sekaligus membangun kebiasaan hidup aktif dan sehat.
- Penulis: admin

Saat ini belum ada komentar