Diskominfo Kuningan Edukasi Pelajar, Kenali Bahaya Judol dan Pinjol
- calendar_month Jumat, 9 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

KUNINGAN, sangajinews.com– Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kuningan terus mendorong literasi digital di kalangan pelajar. Edukasi dilakukan agar generasi muda mampu menggunakan teknologi secara bijak sekaligus memahami berbagai risiko di ruang digital.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Kabupaten Kuningan, Nana Suhendra, M.Pd., saat menjadi narasumber dalam kegiatan Edukasi Literasi Digital bagi Siswa Kelas VIII MTs Negeri 5 Kuningan di Balai Desa Darma, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan mengusung tema “Game Online vs Judol: Kenali Perbedaannya, Pilih Masa Depanmu”. Para siswa diajak memahami perbedaan game online dan judi online (judol), serta membahas bahaya pinjaman online (pinjol), perlindungan data pribadi, bullying, dan cyberbullying.
Nana mengatakan, perkembangan teknologi memberikan banyak kemudahan, termasuk bagi pelajar. Namun, kemudahan tersebut harus diiringi kemampuan untuk memilih, menyaring, dan mengendalikan diri.
“Perkembangan teknologi ini membuat kita mendapatkan kemudahan. Tapi di balik kemudahan, kalau kita tidak bisa memanfaatkannya, akan menjadi sebuah jeratan,” ujar Nana.
Menurutnya, teknologi pada dasarnya bukan sesuatu yang baik atau buruk. Yang paling penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan.
Ia juga mengingatkan bahwa judi online dan pinjol ilegal dapat menimbulkan masalah yang berkelanjutan.
“Kalau sudah judi online biasanya merembetnya ke pinjol,” katanya.
Nana menjelaskan, seseorang yang awalnya mencoba judi online dapat mengalami pola ketagihan. Ketika mengalami kekalahan dan membutuhkan uang untuk menutup kerugian, kondisi tersebut dapat berlanjut pada pinjaman online.
Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai pola “tutup lubang, gali lubang”, yaitu meminjam uang baru untuk membayar pinjaman sebelumnya.
Dalam kegiatan tersebut, Nana juga menegaskan bahwa game online tidak selalu berdampak negatif. Game dapat menjadi hiburan atau sarana refreshing setelah belajar, selama dimainkan secara wajar dan tidak mengganggu kewajiban.
“Kalau game online itu sewajarnya. Tapi kalau untuk judi online kami tidak merekomendasikan sama sekali. Jangan sekali-kali mendekati karena itu adalah jeratan,” tegasnya.
Salah seorang siswi, Aura, juga menyampaikan bahwa bermain game dapat menjadi sarana refreshing setelah lelah belajar. Namun, menurutnya, pelajar tetap harus mengetahui batas waktu dan tidak melupakan kewajiban.
“Bisa untuk refreshing ketika sudah lelah dengan tugas dan belajar seharian. Tapi harus tahu waktu untuk salat bagi yang muslim, membantu orang tua, dan kegiatan manfaat lainnya,” ujarnya.
Siswa Bagikan Pengalaman Bullying
Selain judol dan pinjol, pembahasan mengenai bullying juga mendapat perhatian dalam kegiatan tersebut.
Salah seorang siswa, Fikri, secara terbuka menceritakan pengalamannya sebagai korban bullying sekaligus pernah melakukan bullying terhadap orang lain.
“Saya selaku yang pernah membully dan dibully,” ungkapnya.
Ia mengaku pernah mengalami bullying ketika masih duduk di sekolah dasar karena kurang berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa bullying bukan solusi dalam menyelesaikan persoalan.
“Saya sekarang merasa bersalah. Mengapa saya membully? Kan ada jalan yang lebih baik; saling memaafkan, memberi tahu jika ada kesalahpahaman,” katanya.
Ia kemudian menyampaikan pesan kepada teman-temannya agar selalu berpikir sebelum bertindak.
“Berpikir sebelum bertindak, dan jangan bertindak sebelum berpikir.”
Nana pun mengajak para siswa untuk tidak mengucilkan teman yang sedang menghadapi masalah, termasuk persoalan kecanduan game, judi online maupun pinjol.
“Ketika ada teman kalian yang curhat, mohon untuk didengarkan. Kita juga belajar untuk saling menghargai dan mendengarkan, bukan berarti mengasingkan,” tuturnya.
Ingatkan Pentingnya Jaga Data Pribadi
Dalam kegiatan tersebut, Nana juga mengingatkan siswa agar tidak sembarangan membagikan data pribadi, foto, maupun informasi lainnya kepada orang yang belum dikenal.
“Kalau data-data pribadi jangan terlalu mudah kita berikan kepada orang lain. Takutnya dimanfaatkan,” pesannya.
Ia menekankan pentingnya menjaga privasi dan memahami jejak digital karena perkembangan teknologi juga meningkatkan risiko penyalahgunaan data pribadi.
Kegiatan kemudian diisi dengan berbagai aktivitas interaktif, termasuk menyanyikan lagu “Bagimu Negeri” dan bersholawat “Ya Nabi Salam Alaika”.
Nana mengajak siswa memaknai pentingnya menjaga masa depan dengan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
“Jangan sampai perkembangan teknologi, apalagi tentang judi online, merusak kalian. Karena kalau kalian sudah rusak akal, pikiran, dan jiwa kalian, maka kalian juga akan merusak masa depan,” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar penggunaan gadget tidak berlebihan hingga menimbulkan ketergantungan.
“Jangan terlalu terbuai dengan gadget. Kalau sudah ada ketergantungan, sudah kecanduan, maka yang tertutup itu bukan telinga, tetapi hati kita,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala MTsN 5 Kuningan (Darma), H. Sueb, S.Ag., M.Pd.I., mengapresiasi kegiatan literasi digital yang diberikan Diskominfo Kabupaten Kuningan.
Menurutnya, kegiatan tersebut penting sebagai bentuk perhatian terhadap perkembangan perilaku digital peserta didik.
Ia menyebut berdasarkan analisis sederhana guru Bimbingan dan Konseling (BK), sekitar 60 hingga 70 persen siswa masih berpotensi menggunakan teknologi digital ke arah yang kurang positif apabila tidak mendapatkan bimbingan.
“HP atau dunia digital saat ini banyak sekali manfaatnya. Bahkan semuanya pasti berbasis itu. Tapi potensi untuk dibuat negatif itu banyak sekali,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, Diskominfo Kabupaten Kuningan berharap pelajar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pengguna yang cerdas, kritis, aman, dan bertanggung jawab.
Teknologi bukan untuk dijauhi, tetapi harus dikendalikan agar menjadi sarana belajar, berkarya, dan membuka peluang masa depan.
Game online boleh menjadi hiburan, tetapi jangan sampai menjadi kecanduan. Judi online bukan jalan menuju masa depan. Pinjol bukan solusi untuk menutup masalah. Bullying bukan cara menyelesaikan perbedaan.
- Penulis: admin

Saat ini belum ada komentar