Festival The Soul of Linggarjati Resmi Ditutup, Wabup Tuti: Sejarah Hidup Kembali di Tengah Generasi Muda
- calendar_month 5 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

KUNINGAN. sangajinews.com — Semangat pelestarian sejarah dan kebudayaan kembali bergema dari Gedung Perundingan Linggarjati. Festival The Soul of Linggarjati resmi ditutup pada Kamis (20/8/2026), dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jawa Barat di Gedung Naskah Linggarjati, Kabupaten Kuningan.
Festival tahunan ini mendapat dukungan penuh melalui pendanaan nonfisik dari Kementerian Kebudayaan. Kehadirannya bukan sekadar menghadirkan kemeriahan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan sejarah, seni, pendidikan, dan generasi muda dalam satu panggung kebudayaan.
Tahun ini, antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi melalui tiga rangkaian lomba utama, yakni lomba mewarnai, lomba puisi, dan lomba cerdas cermat. Anak-anak hingga masyarakat umum turut mengambil bagian, menjadikan festival terasa hidup sekaligus sarat nilai edukasi.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan,Dr. Funny Amalia Sari, S.S., M.Hum., menyampaikan bahwa nama “The Soul of Linggarjati” memiliki makna yang sangat mendalam. Gedung Perundingan Linggarjati bukan hanya tempat berlangsungnya kegiatan kebudayaan, melainkan sebuah ruang bersejarah yang menjadi saksi perjuangan diplomasi bangsa Indonesia.
“Linggarjati bukan hanya sebuah bangunan. Di tempat inilah sejarah bangsa pernah ditorehkan. Karena itu, semangat yang kita hadirkan melalui festival ini adalah bagaimana sejarah tersebut tetap hidup dan dapat dirasakan oleh generasi penerus,” ujarnya.
Pemerintah dan panitia pun menyampaikan apresiasi atas dukungan masyarakat terhadap festival tersebut. Tingginya minat warga untuk mengisi panggung acara, mengikuti perlombaan, hingga meramaikan seluruh rangkaian kegiatan dinilai sebagai bentuk nyata bahwa masyarakat memiliki kepedulian terhadap kebudayaan dan sejarah daerahnya.
Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani S.H.,M.Kn, menegaskan pentingnya memperkenalkan kembali situs-situs bersejarah kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurutnya, masyarakat Kuningan perlu mengetahui bahwa terdapat sejumlah bangunan bersejarah yang memiliki peran penting dalam perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia, salah satunya Gedung Perundingan Linggarjati serta Gedung Sutan Sjahrir yang berada di Desa Linggarjati.
Ia menilai sejarah Linggarjati tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu. Perundingan yang berlangsung dengan alot di tempat tersebut menjadi bagian penting dari perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan.
Wabup Tuti, memberikan apresiasi positif terhadap pelaksanaan festival yang dikemas melalui berbagai kegiatan edukatif dan kreatif.
“Festival ini sangat positif karena anak-anak kita diajak mengenal sejarah melalui kegiatan yang mereka sukai, seperti cerdas cermat, puisi, dan mewarnai. Ini menjadi cara yang baik untuk memberikan edukasi sekaligus menumbuhkan semangat kepada generasi muda,” ungkapnya.
Sementara itu, perwakilan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Retno, menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Kuningan terus memperkuat komitmennya dalam merawat sekaligus mendekatkan sejarah bangsa kepada generasi muda.
Menurutnya, situs sejarah harus dikembangkan menjadi ruang edukasi dan pengalaman langsung yang hidup, bukan sekadar lokasi seremonial.
Semangat tersebut sejalan dengan nilai penting Perundingan Linggarjati yang berlangsung pada 11–13 November 1946, ketika delegasi Indonesia berjuang mempertahankan kepentingan dan kedaulatan bangsa melalui jalur diplomasi.
Melalui festival, seni, dan puisi, generasi muda diajak tidak hanya mengetahui sejarah, tetapi juga merasakan semangat perjuangan para pendahulu bangsa.
“Sejarah harus dibuat dekat dengan generasi muda. Anak-anak harus diberikan ruang untuk mengenal, merasakan, kemudian bangga terhadap warisan sejarah bangsanya,” kata Retno.
Kabar baik juga datang dari upaya pelestarian warisan budaya di Kabupaten Kuningan. Tahun ini, Kementerian Kebudayaan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) melakukan revitalisasi terhadap bangunan Museum Linggarjati.
Tak hanya itu, Situs Taman Purbakala Cipari juga mencatat perkembangan penting setelah secara resmi memperoleh nomor registrasi museum dari Kementerian Kebudayaan.
Dengan status tersebut, Museum Situs Taman Purbakala Cipari diharapkan dapat berkembang menjadi pusat edukasi sejarah, ruang untuk mengenalkan kehidupan masyarakat Kuningan pada masa lampau, sekaligus wadah ekspresi dan aktivitas pemajuan kebudayaan.
Rangkaian Festival The Soul of Linggarjati pun menjadi pengingat bahwa merawat sejarah bukan sekadar menjaga bangunan tua agar tetap berdiri. Lebih dari itu, sejarah harus terus diceritakan, dipelajari, dan diwariskan.
Dari Linggarjati, pesan itu kembali digaungkan: bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jejak perjuangan para pendahulunya.
Dan ketika anak-anak mulai mengenal sejarah melalui puisi, warna, permainan, dan cerita, di sanalah jiwa Linggarjati kembali hidup, menyapa generasi hari ini dan menyalakan harapan bagi generasi masa depan.
- Penulis: admin

Saat ini belum ada komentar