Serangan Hama Meningkat, Kuningan Perkuat Gerakan Pengendalian untuk Jaga Ketahanan Pangan
- calendar_month 11 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 2;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 39;
sangajinew.co. Kuningan — Pemerintah Kabupaten Kuningan bersama Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus memperkuat langkah perlindungan tanaman pangan melalui Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), serentak.
Kegiatan ini menjadi upaya strategis untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus memastikan ketahanan pangan tetap terjaga di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya serangan hama penyakit tanaman.
Kegiatan yang digelar di Desa Koreak Kecamatan Cikandamekar, Kamis(4/6/2026), dihadiri perwakilan Kementerian Pertanian RI, Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, unsur Forkopimcam, petugas lapangan, kelompok tani, pelajar, hingga insan media.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayat, M.Si., menegaskan bahwa pertanian bukan hanya sektor ekonomi, melainkan fondasi kehidupan masyarakat dan masa depan bangsa.
“Pertanian bukan urusan masa lalu, melainkan urusan masa depan. Ketika sawah terjaga dan pangan tersedia, masyarakat akan tenang, petani semakin sejahtera, dan daerah akan berkembang lebih maju,” ujarnya.
Perubahan Iklim Perbesar Ancaman Hama
Menurut Wahyu, sektor pertanian saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim menyebabkan pola musim sulit diprediksi, curah hujan tidak menentu, serta mendorong perkembangan berbagai organisme pengganggu tumbuhan yang berpotensi mengancam produksi pangan.
Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan menunjukkan tren peningkatan serangan hama dan penyakit tanaman sepanjang tahun 2026.
Jika sepanjang tahun 2025 Brigade Proteksi Tanaman melakukan 139 kali gerakan pengendalian, maka pada tahun 2026, hanya dalam tiga bulan pertama saja, kegiatan pengendalian telah mencapai 70 kali. Hingga saat ini, jumlah gerakan pengendalian telah menembus 128 kali, dengan cakupan lahan mulai dari 20 hingga lebih dari 50 hektare per lokasi.
“Ini menunjukkan bahwa intensitas serangan OPT meningkat signifikan. Karena itu, pengendalian harus dilakukan lebih cepat, lebih terkoordinasi, dan melibatkan seluruh pihak,” kata Wahyu.
Sebagai bentuk dukungan kepada petani, pemerintah terus menyalurkan berbagai bantuan sarana pengendalian, mulai dari insektisida, fungisida, herbisida hingga dukungan teknis lainnya yang berasal dari Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Kabupaten Kuningan.
Petani yang menemukan indikasi serangan hama atau penyakit tanaman diminta segera berkoordinasi dengan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), penyuluh pertanian, maupun Brigade Proteksi Tanaman agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
“Jangan menunggu serangan meluas. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang kita menyelamatkan hasil panen dan mencegah kerugian petani,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Kuningan juga menyampaikan apresiasi kepada Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat yang telah memilih Kabupaten Kuningan sebagai lokasi pelaksanaan gerakan pengendalian.
Kehadiran Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian dalam kegiatan ini dinilai menjadi bukti bahwa perlindungan tanaman dan pengamanan produksi pangan merupakan agenda strategis nasional yang membutuhkan sinergi dari tingkat pusat hingga daerah.
“Ketahanan pangan tidak dibangun di ruang rapat semata. Ketahanan pangan dibangun dari hamparan sawah yang tetap hijau, tanaman yang terlindungi, dan petani yang terus bersemangat menanam harapan bagi bangsa,” ungkap Wahyu.
Pengamatan Rutin Jadi Benteng Pertama
Dalam kesempatan tersebut, Wahyu juga mengajak petani untuk lebih aktif melakukan pengamatan rutin terhadap kondisi tanaman di lahan masing-masing.
Menurutnya, pencegahan selalu lebih efektif dan lebih murah dibandingkan penanggulangan setelah serangan hama berkembang luas.
“Pengamatan yang baik adalah benteng pertama perlindungan tanaman. Dengan deteksi dini, langkah pengendalian dapat dilakukan lebih cepat sehingga kerusakan dapat diminimalkan,” katanya.
Wahyu turut memberikan apresiasi kepada seluruh Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yang selama ini menjadi ujung tombak perlindungan tanaman di lapangan.
Ia menegaskan bahwa POPT memiliki peran penting dalam menjembatani teknologi pertanian, ilmu pengetahuan, dan kebutuhan petani di lapangan.
“Teruslah hadir di tengah petani, menjadi sahabat, pendamping, sekaligus sumber solusi. Keberhasilan pertanian tidak hanya diukur dari peningkatan produksi, tetapi juga dari kemampuan kita menjaga dan melindungi hasil produksi tersebut,” ujarnya.
Melalui gerakan pengendalian yang dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Kuningan optimistis mampu menjaga stabilitas produksi pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Seluruh upaya tersebut sejalan dengan visi pembangunan Kuningan MELESAT (Maju,Empowering, Agamis, dan Tangguh) yang menempatkan sektor pertanian sebagai salah satu fondasi utama pembangunan daerah.
Dengan kolaborasi seluruh pihak, Kuningan menargetkan terciptanya pertanian yang semakin maju, tangguh, berkelanjutan, serta mampu menghadirkan petani yang sejahtera sebagai pilar ketahanan pangan daerah dan nasional.
- Penulis: admin






Saat ini belum ada komentar