MUI Kabupaten Kuningan Luncurkan Program Terjemah Al-Qur’an 40 Jam, Tanam Empat Pohon Kurma Sebagai Simbol Keberkahan
- calendar_month 9 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

sangajinews.com. KUNINGAN — Semangat membumikan Al-Qur’an di tengah masyarakat kembali digaungkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kuningan. Melalui sebuah acara yang berlangsung khidmat dan penuh makna, MUI Kabupaten Kuningan secara resmi meluncurkan Program Terjemah Al-Qur’an Sistem 40 Jam, sekaligus melakukan penanaman pohon kurma sebagai simbol keberkahan, keteladanan, dan harapan bagi generasi mendatang. Selasa (16/6/2026)
Program yang diinisiasi oleh Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Al-Qur’an (LPPTQI) Kabupaten Kuningan ini hadir sebagai terobosan pembelajaran Al-Qur’an yang praktis, sistematis, dan mudah dipahami masyarakat. Dengan metode khusus yang dirancang agar peserta mampu memahami terjemah Al-Qur’an dalam waktu relatif singkat, program ini diharapkan menjadi jembatan bagi umat untuk semakin dekat dengan kitab sucinya.
Acara peluncuran tersebut dihadiri berbagai unsur pemerintah, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan. Tampak hadir Plt. Asda III Kabupaten Kuningan, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Kuningan, Kabag Kesra Setda Kuningan, Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan, jajaran pengurus MUI, Ketua GOW Kabupaten Kuningan, Ketua Baznas, serta para pengurus PC Muslimat NU, BKMM, dan DKM Syiarul Islam.
Ketua Panitia Pelaksana, H. Ade Hidayat, menjelaskan bahwa lahirnya LPPTQI berangkat dari kepedulian dan dedikasi panjang seorang pendidik, Drs. H. Dodo Syarif Hidayatullah, M.Pd., yang meski telah purna tugas, tetap konsisten mengabdikan ilmunya untuk kemajuan umat dan bangsa.
“Beliau memiliki pengalaman panjang sebagai pendidik, mulai dari pesantren, madrasah, hingga menjadi dosen di STIQ Ambon. Semangat beliau untuk terus mengajarkan Al-Qur’an menjadi inspirasi lahirnya program ini,” ujarnya.
Tanam Empat Pohon Kurma, Simbol Sunnah dan Persatuan Umat
Tak hanya meluncurkan program pendidikan Al-Qur’an, acara ini juga menghadirkan momen yang menarik perhatian para tamu undangan, yakni penanaman empat pohon kurma di halaman Kantor MUI Kabupaten Kuningan.
Menurut Drs. H. Dodo Syarif Hidayatullah, pemilihan pohon kurma bukan tanpa alasan. Selain merupakan bagian dari upaya menghidupkan sunnah Rasulullah SAW, pohon kurma juga menjadi simbol keberkahan, keteguhan, dan manfaat yang terus mengalir bagi umat.
Lebih jauh, jumlah empat pohon kurma yang ditanam mengandung filosofi mendalam. Angka empat melambangkan empat sahabat utama Rasulullah SAW, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Selain itu, angka tersebut juga merepresentasikan kokohnya nilai-nilai Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah yang telah tumbuh dan mengakar kuat di Nusantara selama berabad-abad.
Menariknya, pohon-pohon kurma tersebut merupakan hibah dari Pondok Pesantren Al-Azzam Ciwiru, Pasawahan. Bibit kurma itu dibudidayakan langsung oleh pimpinan pondok pesantren, Kiai Bahrudin, bersama para santrinya, mulai dari biji hingga tumbuh subur dan terbukti mampu berbuah lebat.
Ikhtiar Menebar Manfaat untuk Umat
MUI Kabupaten Kuningan berharap Program Terjemah Al-Qur’an Sistem 40 Jam dapat menjadi gerakan literasi Al-Qur’an yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat, sehingga semakin banyak umat Islam yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami kandungan maknanya.
Sementara itu, penanaman pohon kurma di lingkungan MUI diharapkan menjadi simbol tumbuhnya keberkahan yang terus memberikan manfaat bagi masyarakat. Bahkan, MUI menegaskan bahwa apabila pohon-pohon kurma tersebut kelak berbuah atas izin Allah SWT, hasilnya akan diperuntukkan sepenuhnya bagi kemaslahatan umat dan tidak untuk diperjualbelikan.
Peluncuran program dan penanaman pohon kurma ini menjadi bukti bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui mimbar dan kajian, tetapi juga melalui pendidikan, keteladanan, serta aksi nyata yang menanamkan harapan bagi masa depan. Di tengah tantangan zaman, langkah MUI Kabupaten Kuningan ini menjadi pesan optimistis bahwa Al-Qur’an akan terus hidup, dipahami, dan diamalkan dalam kehidupan masyarakat.
“Menanam pohon hari ini adalah menanam harapan. Mengajarkan Al-Qur’an hari ini adalah menyiapkan peradaban masa depan.”(Wr)
- Penulis: admin
Saat ini belum ada komentar