“Hari Jadi Kuningan bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk merenung, berkontemplasi, dan meneladani jasa para leluhur yang telah meletakkan dasar bagi kemajuan Kabupaten Kuningan. Dengan ziarah ini, kita berharap dapat meneruskan cita-cita bersama masyarakat yang telah ditanamkan para pendahulu kita untuk kesejahteraan masyarakat. Semoga dari kegiatan ziarah ini kita mendapat keberkahan dan kekuatan untuk terus membangun daerah,” ujar Bupati.
sangajiNews.com – Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti prosesi ziarah leluhur dalam rangka Hari Jadi ke-527 Kabupaten Kuningan pada Jumat (22/8). Rombongan dipimpin langsung oleh Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., didampingi Wakil Bupati Hj. Tuti Andriani, S.H., M.Kn., jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Penjabat Sekretaris Daerah, para kepala OPD, serta Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan.
Ziarah dimulai di Makam Gede, tempat peristirahatan para leluhur Kuningan, di antaranya Arya Kamuning, almarhum Saleh Alibasah, almarhum R. Oemar Said, serta Syekh Maulana Akbar. Rangkaian kemudian berlanjut ke Makam Ramajaksa Winduherang, dilanjutkan ke Makam Cigugur untuk berziarah ke makam almarhum H. Acep Purnama, Bupati Kuningan periode sebelumnya. Sebagai penutup, rombongan bergerak menuju Makam Sunan Gunung Djati di Cirebon, salah satu tokoh Wali Songo yang berjasa besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa.
Dalam sambutannya, Bupati Dian Rachmat Yanuar menegaskan bahwa ziarah bukan sekadar tradisi, melainkan pengingat bagi generasi penerus.
“Hari Jadi Kuningan bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk merenung, berkontemplasi, dan meneladani jasa para leluhur yang telah meletakkan dasar bagi kemajuan Kabupaten Kuningan. Dengan ziarah ini, kita berharap dapat meneruskan cita-cita bersama masyarakat yang telah ditanamkan para pendahulu kita untuk kesejahteraan masyarakat. Semoga dari kegiatan ziarah ini kita mendapat keberkahan dan kekuatan untuk terus membangun daerah,” ujar Bupati.
Prosesi berlangsung penuh keteduhan. Doa bersama menggema di setiap pusara yang diziarahi, diiringi tabur bunga sebagai tanda cinta dan penghormatan. Momen sakral ini seakan menghubungkan napas sejarah Kuningan dengan semangat masa kini untuk melanjutkan perjuangan menuju kesejahteraan rakyat.