• Rab. Jan 21st, 2026

SANGAJI NEWS

memberikan informasi, faktual dan terpercaya

“Jejak Tapak Yang Dilupakan”Episode 4:Anak Juhri, Lawan yang Tak Terduga

Bysangaji news

Mei 15, 2025

Pasar rakyat Tara Tumpah mulai terasa mencekam. Para pedagang mulai berbisik takut. Uang lapak naik dua kali lipat. Dan malam-malam, suara motor asing sering meraung di jalan kecil belakang musala.

DISCLAIMER:
Maaf jika dalam cerita ini terdapat kesamaan nama, tokoh, tempat, atau kejadian dengan dunia nyata. Semua itu tidak disengaja. Cerita ini murni fiksi semata untuk keperluan hiburan.

Pasar rakyat Tara Tumpah mulai terasa mencekam. Para pedagang mulai berbisik takut. Uang lapak naik dua kali lipat. Dan malam-malam, suara motor asing sering meraung di jalan kecil belakang musala.

Mandor Kawi sedang memperlihatkan taring lamanya—tapi Bang Saka tidak tinggal diam.

Bersama Dul Latif, Ipul Galing, dan Tolek, Saka membuat barikade di ujung jalan pasar. Mereka mulai membuat patroli anak muda kampung. Sekolah tetap jalan, domba tetap digembalakan, tapi malam… malam milik mereka.

Satu malam, saat kabut turun lebih cepat dari biasanya, suara motor berderu mendekat. Sepuluh orang pria bertubuh kekar turun dari motor. Mereka mengenakan jaket kulit, celana sobek, dan wajah penuh tatapan tantangan.

Mereka anak buah Mandor Kawi.

Pemimpinnya, seorang berambut mohawk dan tangan penuh tato ular, melangkah ke depan. “Mana Saka? Suruh keluar kalau memang berani!”

Dul Latif melangkah lebih dulu. “Kalau kau cuma bisa ramai-ramai, lebih baik pulang sebelum malam kalian berakhir di parit.”

“Bocah!” bentak si mohawk.

Namun dari balik bayangan tiang listrik, Saka melangkah pelan. Peci hitamnya sudah menempel, matanya tajam, tangan kirinya membawa tongkat kayu keras—bukan sekadar alat gembala.

“Kalau kalian memang jagoan, satu lawan satu,” kata Saka pelan tapi mantap. “Tapi kalau masih mau ramai-ramai… jangan salahkan kami kalau kalian pulang tanpa harga diri.”

Seketika, suara bambu dipukul tiga kali. Itu kode dari Dul Latif.

BRRAKK!!
Tong sampah jatuh. Ipul Galing muncul dari balik warung dengan senapan angin di tangan. Tolek menjatuhkan jaring yang dipasangnya di jalur keluar. Jalan sempit berubah jadi perangkap.

Anak buah Kawi mencoba menyerbu. Tapi mereka tidak tahu satu hal—Saka tidak cuma kuat, dia juga tahu medan. Tongkatnya menyapu kaki lawan, satu per satu roboh, kepala kena batu, badan masuk ke got.

Latif melompat menendang satu dari belakang. “Untuk Tara Tumpah!” teriaknya.
Ipul menembakkan peluru kecil ke arah lutut lawan. “Balik ke sarang kalian!”

Dalam lima menit, dari sepuluh orang, hanya tiga yang masih berdiri. Tapi melihat yang lain kocar-kacir, mereka pun lari pontang-panting ke arah kebun pisang, menabrak gerobak, menjerit seperti tikus got kepergok kucing pasar.

Bang Saka berdiri dengan napas teratur. Tak ada luka, hanya sedikit debu di bajunya. Tongkatnya masih utuh.

Dul Latif menyeringai. “Apa sekarang mereka tahu siapa penguasa tanah ini?”

Saka hanya tersenyum kecil. “Belum. Tapi malam ini, mereka tahu… kita bukan anak-anak sembarangan.”

Bersambung ke Episode 5: Mandor Kawi Turun Tangan

Mau langsung lanjut ke episode berikutnya?

klik..Comment tulis ‘LANJUT!’ dan
Tekan LIKE dan follow.. channel ini…. Terima kasih..

Sajum… “Sampai Jumpa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *